Minggu, 22 April 2012

JALAN HIDUPKU


Sepuluh tahun usia penikahan kami ,kami di karuniai seorang putra yang tampan berusia 8 tahun namanya Bayu.
Bayu kini duduk di kelas tiga SD ,meski usianya baru delapan tahun tapi dia sudah bisa di andalkan ,dia cerdas dan selalu ceria. Kami boleh di katakan lumayan enak karena nyaris tidak ada kekurangan,aku bekerja di salah satu perusahaan swasta dan aku juga punya usaha sendiri,rumah makan dan beberapa warnet. Istriku juga bekerja di perusahaan swasta dan juga mengelola beberapa salon kecantikan yang kami punya.
Istriku cantik,supel dan dewasa dia juga pintar memasak. Keluarga kami keluarga yang harmonis,hangat dan anak kami juga lucu lho......
Usaha kami makin hari semakin berkembang sehingga mengharuskan kami untuk menambah beberapa orang tenaga kerja,hampir semua usahaku aku serahkan kepada orang lain untuk mengelolanya karena aku sendiri harus fokus juga dengan pekerjaanku.
Karena kemajuan yang lumayan pesat dan keuntungan yang lumayan ,hampir setiap tahun kami mengajak karyawan kami untuk tour sekedar menghilangkan penat selama bekerja.
Masing-masing karyawan kami perbolahkan untuk mengajak keluarganya bagi yang sudah berkeluarga atau pacar bagi yang masih sendiri.
Seperti halnya tahun ini kami mengadakan tour ke luar kota yaitu kota Bengkulu,kota yang terkenal dengan bunga raksasa dan benteng marlboro itu. Tahun-tahun sebelumnya kami hanya jalan di sekitar pula jawa saja,baru kali ini kami keluar pulau jawa. Suasana bahagia aku lihat dari wajah wajah karyawanku aku sangat senang bisa sedikit membuat mereka bahagia bersama keluarga mereka. Sepanjang perjalanan aku menyaksikan anak-anak mereka tertawa riang sambil bersorak sorak kecil yah walaupun ada juga sebagian anak mereka yang juga mabuk kendaraan tapi itu bukan masalah. Aku dan juga keluargaku sengaja gabung bersama mereka dalam Bis agar makin terlihat kebersamaan dan juga rasa kekeluargaan. Dalam hati aku bersyukur “Ya Allah terima kasih atas anugrah yang Engkau berikan kepadaku sehingga aku bisa berbagi rejeki dari-Mu untuk mereka”.
Sesamapinya di kota Bengkulu hari masih pagi masih jam sembilan,kami tidak menyiakan waktu segera kami menuju tempat wisata yang sebelumnya memang sudah di rencanakan,tujuan kami yang pertama adalah sebuah telaga yang terletak di desa rejang namanya TELAGA PUTRI TUJUH WARNA ,telaga ini memang berwarna warni hal ini menurut penduduk setempat warna telaga yang berbeda-beda itu karena di pengaruhi warna dasar telaga.
Semua bergembira di sana sibuk dengan keluarga masing-masing,begitu juga istriku dia selalu terlihat gembira bersama Bayu yang di dampingi oleh Bi Inah.
Bi Inah adalah orang yang selalu berjasa pada keluarga kami dia yang selalu membantu kami kalalu kami sedang repot.
Sehabis dari telaga kami juga tak lupa menikmati tempat tempat indah lainnya,seperti pantai panjang,benteng marlboro,dan bunga raksasa “raflesia”.
Singkat cerita kami berada di kota Bengkulu selama tiga hari,lumayanlah bisa sedikit menenangkan suasana hati dan membuat mereka gembira selama berada di Bengkulu.
***
Begitulah awal kehidupan kami ,kami ingin selalu membuat orang yang berjasa pada kami juga merasakan kebahagiaan,walaupun mungkin tak bisa sempurna.
Seiring berkembangnya usaha kami,kami merasa sangat bahagia,begitu juga dalam keluargaku,istriku juga selalu ceria bersama buah hati kami,Bayu.
Hari hari yang kami lalui nyaris tak ada kekurangan semua kebutuhan dapat kami penuhi,bahkan beberapa hari yang lalu aku membeli sebuah mobil baru untuk istriku dan mobil yang dulu di pakai istriku aku serahkan kepada salah seorang pimpinan yang mengelola usaha kami.
Hari-hari berlalu bulanpun berganti tahun,ternyata kebahagian dalam keluargaku tak selamanya dapat aku rasakan,istriku yang semula selalu ceria kini tampak selalu berduka,dia yang dulu setia menemani tak kuat juga menahan kesetiaanya.
Sesuatu terjadi padaku di saat keluargaku sedang menikmati keberhasilan dan kebahagiaan,aku mengalami kecelakaan.
Mobil yang aku kendarai sewaktu mau meninjau lokasi baru yang rencananya akan kami buka cabang rumah makan, hancur nyaris tak berbentuk mobil lagi setelah tabrakan dengan sebuah mobil bis. Selama enam hari aku tidak sadarkan diri di ruang icu,selama itu pula secepat kilat apa yang aku miliki hilang satu persatu dari mobil mewah yang aku kendarai sampai tempat usaha yang aku miliki di jual satu demi satu untuk membiayai rumah sakit.
Akhirnya masa kritisku lewat,dan aku sadarkan diri. Dengan mata yang belum jelas memandang aku mulai bisa melihat cahaya di ruangan itu ,aku lihat langit-langit putih di sekelilingku ada banyak orang yang belum jelas siapa karena mataku masih samar-samar tapi aku mendengar isak tangis yang tertahan mungkin mulutnya di tutup dengan tangan sehingga tangisnya tak terdengar jelas,tapi semakin aku sadar tangis itu semakin jelas bahkan bukan cuma suara yang tadi aku dengar tapi ada suara anak kecil.
Aku mulai mengenal suara tangis itu, “Bayu” ,ucapku hampir tak terengar.
Aku melihat anaku Bayu bersama Bi Inah dengan mata hampir bengkak karena menangis.
Aku mulai berniat bangun dari tempatku terbaring,semakin kuat aku berusaha untuk bangun semakin berat pula tubuhku,aku tidak kuat untuk bangun sekujur tubuhku putih dan beberapa bagian lain terlihat merah ,air matakupun jatuh perlahan melihat sekujur tubuhku di perban bahkan kakiku di ikatkan pada tiang tempatku terbaring.
Aku ingin memeluk Bayu dan menghapus air matanya tapi aku tidak punya kekuatan lagi untuk bangun,akhirnya Bayu memelukku di tempatku terbaring setelah dari tadi di peluk Bi Inah. Bi Inah ikut jongkok memeluk Bayu dari belakang, tangisnya terisak tak terbendung.
“Papaaaaa”,teriak Bayu. Lagi-lagi air mataku jatuh tak terbendung bukan karena sakit yang aku rasakan tapi tak kuasa melihat Bayu menangis hampir tidak bisa bicara apapun karena isak tangisnya. Hatiku bagai di sayat sayat perih lebih perih dari luka sekujur tubuhku. Setelah tangis Bayu mereda aku tersenyum pada Bayu,”Bayu....sabar  ya nak “,ucapku hanya dalam hati.
Mataku memandang sekeliling ruangan ada banyak kelurgaku di sana dan hampir semua dari mereka aku liat menangis ,aku berusaha mencari seseorang tapi tak aku lihat juga meskipun beberapa kali aku memandang sekelilingku,aku mencari istriku Intan.
Bi Inah sepertinya mengerti siapa yang aku cari,kemudian Bi Inah mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya.
”Dear Papa,
Papa sayang,aku tidak kuat untuk melihat papa karenanya hari ini mama sengaja pergi karena tak akan kuat membendung kesedihan meliaht Papa.
Pa,semua tempat usaha yang kita punya semuanya sudah Mama jual demi kesembuhan Papa,sekarang Mama lagi berusaha untuk menjual usaha yang pertama Papa bangun.
Tadi sebelum pergi Dokter Rina bilang kalau hari ini kemungkinan besar Papa sadarkan diri,tapi Mama harus pergi.....lekas sembuh ya Pa...”.
Sendainya aku membaca surat itu dalam posisi duduk atau berdiri mungkin surat itu basah  karena air mataku yang tek terbendung,bukan karena usahaku bangkrut bukan pula karena tubuhku yang terkulai lemah tapi karena di saat ini orang yang aku sayang tak bersamaku di saat aku butuh kekuatan batin.
Meski aku berusaha kuat untuk tidak memjatuhkan air mata tapi akhirnya mengalir juga air mataku terlebih melihat anakku Bayu dengan isak tangisnya. Bi Inah memeluk Bayu seolah memberikan kekuatan pada Bayu untuk berhenti menangis.
Esok harinya istriku pulang dan bercerita tentang banyak hal dari aku kecelakaan sampai usahaku yang habis terjual karena besarnya biaya selama di rumah sakit ,dari tak sadarkan diri sampai aku bisa melewati masa kritis.
Aku tak lagi melihat kasih sayang seperti dulu dari istriku sejak kejadian aku kecelakaan padahal sebelum itu aku sangat jelas melihat kasih sayangnya yang aku anggap begitu tulus dan selalu setia menemani aku. Hati kecilku mulai ada pertanyaan ,kenapa,mengapa??
Apakah karena aku sudah bangkrut.......??
***
Hari ini Bayu tidak masuk sekolah karena Bayu merasa perlu menemani aku yang masih terbaring di rumah sakit,
“Pa,Bayu ga sekolah ya,bayu mau disini bersama papa”,
“Iya,Bayu...”,ucapku sambil menganggukan kepala.
Aku mengelus pelan kepala Bayu yang sesekali menagis melihat keadaanku yang masih terbaring,untung ada Bi Inah yang selalu setia menjaga Bayu selama aku di rumah sakit.
“Bi,terima kasih ya sudah menjaga Bayu....”,ucapku keada Bi Inah.
“Ini kan sudah kewajiban Bibi ,Pak...”,kata Bi Inah.
Lagi lagi air mata Bi Inah berlinang air mata di samping Bayu anaku....” Sabar ya ,Pak. Allah pasti memberikan kesembuhan kepada bapak karena bapak orang yang begitu baik...” ,ucap Bi Inah menguatkan aku.
Intan istriku masih sibuk karena sebagian usaha yang dia kelola sangat tergantung padanya dan akupun tak terlalu menghiraukan itu,aku mengerti meski dengan keadaanku di rumah sakit ada hal penting yang harus istriku urus.
Bi Inah kemudian bercerita banyak hal yang sambil sesekali menguatkan aku,buat aku dia sudah seperti keluargaku walaupun dia hanya bekerja di rumahku.
Bibi bilang kalau selama aku tidak sadarkan diri hampir semua karyawanku datang menjenguk silih berganti begitu juga keluarga dan sahabat sahabatku bahkan beberapa orang gurunya Bayu datang juga menjenguk aku,”terima kasih ya Allah masih banyak yang peduli kepadaku,semoga hal yang sama tak terjadi pada mereka..amiin”, ucapku dalam hati.
***
Hari ini kata dokter Rina aku sudah boleh pulang setelah hampir satu bulan aku berada di rumah sakit,lega rasanya karena aku bisa kembali kerumah,rasa kangen pada suasana rumah dan hem....kolan renang.
Kami berempat pulang ,Bayu,Bi Inah,aku dan istriku.
Karena keadaanku yang belum begitu sehat maka yang bawa mobil adalah istriku.
Sesampai di rumah aku melihat rumahku yang tak seperti biasanya kali ini rumahku terliaht kotor dan banyak debu yah maklum hampir sebulan Bi Inah setia di rumah sakit kalaupun pulang dia hanya sebentar mengambil keperluan saja.
Hari demi hari aku semakin melihat jelas perubahan pada diri Intan istriku dia tak lagi seperti dulu dan tak sesayang dulu,usahaku habis buat perawatan selama di rumah sakit hanya dengan hitungan hari tapi menurut laporan salah seorang kepercayaanku yang di jual sama Intan hanya tempat usaha yang murni aku kelola bersama orang kepercayaanku sedangkan usah yang dia kelola tidak satupun yang dia jual. Awalnya aku tidak berpikir jauh dengan masalah itu tapi lama kelamaan aku mulai mengerti setelah melihat perubahan yang drastis dari Intan. Intan mulai mengabaikan aku bahkan Bayu anak kami,sibuk dan selalu sibuk.
Sampai pada suatu hari aku menerima surat gugatan cerai dari Intan,bagai ada badai yang begitu besar siap menerjang di depan mataku sedemikian kagetnya aku membaca surat dari pengadilan itu. Tak terbayang olehku kelurga yang selama ini aku bangun penuh kebahagiaan harus hancur.
Aku berusaha kuat menghadapi ini semua,sambil mengelus dada aku mengadu pada Allah, Ya Allah,kalau ini yang terbaik buat aku ,aku ikhlas ya Allah....karena hidup matiku, jatuh dan bangunku adalah kehendak_Mu,tapi tolong Ya Allah kuatkan juga Bayu anakku agar dia juga siap menerima hal ini.
Akhiirnya aku resmi bercerai dengan istriku setelah melewati beberapa proses panjang,kini aku tinggal di rumah yang sederhana bersama Bayu dan Bi Inah sedangkan rumah yang selama ini aku tempati aku jual juga untuk membayar PHK karyawanku.
***
Apa yang terjadi pada diriku semoga tak menimpa orang lain,aku tetap tawakal karena ini adalah jalan hidupku.
*******




Tidak ada komentar:

Posting Komentar